Dafi Praktikkan Merdeka Belajar Saat Belajar IPS

0
225

Praktik pembelajaran yang mengandalkan metode ceramah perlahan namun pasti mulai ditinggalkan. kegiatan pembelajaran itu mulai tergusur dengan model pembelajaran yang inovatif. Salah satunya yang sedang viral yaitu model pembelajaran merdeka belajar.

Dalam konteks model pembelajaran merdeka belajar, siswa diberi kebabasan untuk mengeksplorasi potensi diri dengan menggali sumber-sumber belajar secara mandiri sesuai dengan perkembangan zaman. Pusat informasi yang pada masa lalu tersentral pada guru, di saat ini terutama dalam model pembelajaran merdeka belajar, terdistribusi secara luas. Sumber belajar bisa dari sosial media, internet, teman, bahkan dari pengalaman siswa.

Hal itulah yang membuat model pembelajaran ini menarik untuk diterapkan. Model pembelajaran ini sangat efektif untuk melatih kreatifitas dan inisiatif siswa untuk berkembang dalam segi pemikiran dan kemandirian.

Guru-guru di Dafi banyak yang menggunakan model pemberalaran merdeka belajar untuk menunjang kesuksesan target pembelajaran. Salah satu guru dafi yang sangat aktif dalam menjalankan pembelajaran merdeka belajar adalah ustaz Anjas, Guru Pelajaran IPS.

Di salah satu bab pelajaran IPS mengenai produksi ustaz Anjas mendorong santri-santri Dafi kelas VII untuk berkreasi secara mandiri dalam menciptakan produk kuliner. Mereka diminta ustaz Anjas untuk menciptakan produk kuliner layak jual berbahan senderhana. Hasilnya tidak mengecewakan. Para santri Dafi mampu menjalankan tugas pelajaran IPS dengan baik.

Umar fathin Mufid salah satu santri kelas VII mengaku senang dengan metode belajar seperti ini. Ia merasa praktek-praktek pembelajaran seperti ini bisa membuatnya memahami bukan hanya teori tapi juga praktik. Fathin dan kawan-kawan sekelompoknya membuat inovasi produk berbahan pisang yang enak dan murah. Ia menamai produknya pisang goreng milenial enak gurih.

Baca juga: Khisan Sabilarahma Juara Harapan 2 Arabic Story Telling

Fathin menambahkan pembelajaran pembuatan produk kuliner dan menjualnya di dalam pondok telah membuatnya mempunyai pengalaman menjadi pengusaha. “Saya jadi tahu rasanya membuat produk, melayani pembeli, bahkan dikritik dan ditolak calon pembeli. Itu pengalaman yang luar biasa” tutup Fathin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here